EIGHT LIES OF MOTHER ( Delapan kebohongan Ibu)

18 August 2007

A Story that I cannot forget….

(sebuah cerita yang tak dapat aku lupakan…..)

1. The story began when I was a child; I was born as a son of a poor family. Even for eating, we often got lack of food. Whenever the time for eating, mother often gave me her portion of rice. While she was removing her rice into my bowl, she would say “Eat this rice, son. I’m not hungry”.

That was Mother’s First Lie.

1. Cerita ini dimulai ketika aku masih kecil, saya terlahir sebagai anak lelaki dari sebuah keluarga miskin. Yang terkadang untuk makan pun kita sering kekurangan. Kapanpun ketika waktu makan, ibu selalu memberikan bagian nasi nya untuk saya. Ketika beliau mulai memindahkan isi mangkuknya ke mangkuk saya, dia selalu berkata “Makanlah nasi ini anak ku. Aku tidak lapar”

ini adalah kebohongan Ibu yang pertama. Read the rest of this entry »


Jangan Remehkan Dosa

12 August 2007

Setelah ular itu menjadi besar dilatih untuk melakukan permainan
yang lebih berbahaya, di antaranya membelit tubuh pelatihnya.
Sesudah berhasil melatih ular itu dengan baik, pemain sirkus itu
mulai mengadakan pertunjukkan untuk umum. Hari demi hari jumlah
penontonnya semakin banyak. Uang yang diterimanya semakin besar. Read the rest of this entry »


Perempuan dengan hati seluas samudera

12 August 2007

Oleh Hayati Rahmah
Perempuan itu sama sekali tidak berbeda dari perempuan lain. Ia hanya seorang anak bungsu dari keluarga yang sederhana. Sejak kecil, seringkali ia harus bekerja keras dan terkadang mendapat perlakuan tidak enak dari saudara-saudaranya. Pendidikannya pun tidak terlalu tinggi. Meski sempat mengecap bangku SMA, tapi ia tidak sampai menamatkannya.

Seorang laki-laki baik melamarnya ketika usianya 22 tahun. Ia pun setuju ketika harus pindah dan meninggalkan kota kelahirannya mengikuti suami yang bekerja di kota lain. Perjalanan waktu mengajarkannya untuk bisa menjalankan peran sosial dengan sangat baik. Jika di awal-awal pernikahan ia sering menangis karena jauh dari keluarganya, pada tahun-tahun berikutnya ia sudah terampil merawat rumah, berbelanja ke pasar, mengasuh anak, dan lain sebagainya. Read the rest of this entry »


Hati yang Lembut

12 August 2007

Oleh Adi Junjunan Mustafa

Sudah sekitar empat tahun saya mengenalnya. Pembawaannya amat tenang. Akan tetapi senyum lembut senantiasa tersungging setiap kali ia mendapatkan kabar gembira dari sahabat-sahabatnya. Sesekali senyum lebar ia tebarkan, ketika salah seorang sahabatnya menyampaikan cerita lucu. Ya, senyum lebar saja dengan suara yang rendah. Tak pernah ada tawa nyaring keluar dari mulutnya. Ia bukanlah seorang orator. Bahkan ia seorang yang amat pendiam. Sepertinya setiap kalimat yang ia ucapkan telah melalui perenungan yang mendalam. Tak ada yang ia katakan kecuali kalimat yang bermanfaat. Read the rest of this entry »


Keluarga Tarbiyah, Tarbiyah Keluarga

12 August 2007

Oleh Azimah Rahayu

“De, Mas keluar sebentar ya? Sudah lama tidak ngobrol. Ade tidur dulu kalau sudah ngantuk,” Aku mengangguk dan beranjak ke kamar mandi. Jarum jam sudah melewati angka sebelas. Saat hendak kembali ke kamar, pemandangan di ruang tengah itu menakjubkanku. Pria wanita paro baya dan tiga lelaki gagah tengah bercengkerama bersama di atas tikar. Tiga lelaki perkasa berlomba memijit ayah ibunya sambil berbincang akrab. Aku tak hendak mengganggu kemesraan itu. Setelah sedikit basa-basi aku masuk ke kamar. Read the rest of this entry »


PUNCAK RASA MALU

9 August 2007

Umar bin Ubaidullah bin Ma’mar melewati seorang laki-laki hitam sedang makan di sebuah kebun. Di depannya terdapat seekor anjing. Jika dia makan satu suapan, dia melemparkan satu suapan pula kepada anjing tersebut.

Umar bertanya, “Apakah itu anjingmu?”
Dia menjawab, “Bukan.”

 

Umar bertanya, “Mengapa kamu memberinya makan seperti apa yang kamu makan?”

Dia menjawab, “Aku malu dari pemilik dua mata (Allah Subhanahu wa ta’ala) yang melihatku, sementara aku menguasai makanan itu dan dia tidak makan.” Read the rest of this entry »


Buang Tabiat Burukmu!

9 August 2007

Suatu hari, Seorang yang bijak ditemani salah seorang anaknya berjalan-jalan ke tempat yang sunyi. Keduanya berjalan dan akhirnya sampai di perkebunan dengan pohon-pohon yang indah, bunga-bunga yang harum, dan buah-buahnya yang ranum. Ada sebuah pohon kecil di pinggir jalan yang condong karena ditiup angin. Ujungnya hampir menyentuh tanah.

 

Bapak yang bijak itu berkata kepada anaknya, “Lihatlah pohon yang miring itu. Kembalikan ia kepada keadaannya yang semula.”
Anaknya pun bangkit menuju pohon itu. Dengan mudah dia berhasil meluruskannya. Read the rest of this entry »