SEBUAH CONTOH KETAATAN SEORANG MUSLIMAH TERHADAP KHALIFAH DIMASA KHALIFAH UMAR

Ibnul-Jauzy dalam bukunya Ahkamun-Nisa’ menuturkan, dari Abdullah bin Zaid bin Aslam, dari ayahnya, dari kakeknya, dia berkata, “Saat aku bersama Umar bin Al-Khaththab Rodhiallahu ‘anhu yang saat itu sedang melakukan inspeksi di Madinah tiba-tiba dia merasakan kelelahan. Maka pada tengah malam itu, dia bersandar di samping sebuah dinding.

Tiba-tiba terdengar seorang wanita berkata kepada putrinya, “Wahai putriku, ambillah susu itu dan campurilah ia dengan air biasa!”—Pada masa tersebut sebagian pedagang mencampur air susu dengan air, supaya mereka mendapat keuntungan yang lebih dari penjualan susu tersebut. Hal tersebut menyerupai pencampuran susu dengan air atau madu dengan air yang terjadi pada masa sekarang.—

Putrinya menjawab, “Wahai ibu, apakah ibu tidak tahu keputusan yang diambil Amirul-Mukminin pada hari ini?”

 

 

“Memangnya apa keputusan yang diambilnya wahai putriku?” tanya sang ibu.
“Dia memerintahkan seseorang untuk mengumumkan, bahwa air susu tidak boleh dicampur dengan air,” jawab putrinya.

 

 

 

“Wahai putriku, ambil saja susu itu dan campurilah ia dengan air. Toh saat ini kamu berada di suatu tempat yang tidak bisa dilihat Umar,” kata sang ibu.
Putrinya berkata, “Aku sama sekali tidak akan menaatinya saat ramai dan mendurhakainya saat sepi.”

 

 

 

 

Umar bisa mendengar itu semua. Setelah kembali kerumah, dia berkata, “Wahai Aslam, datangi lagi rumah itu dan selidikilah siapa wanita yang menjawab seperti itu dan siapa pula wanita tua yang menjadi lawan bicaranya. Adakah mereka mempunyai suami?”

Aslam menuturkan, “Lalu kudatangi rumah itu. Ternyata wanita yang memberikan jawaban seperti di atas masih gadis, dan wanita yang berbicara dengannya adalah ibunya, yang rumah itu tidak ada seorang laki-laki pun. Kudatangi Umar dan kukabarkan hal ini kepadanya.

 

 

Lalu dia memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka. Dia berkata, “Apakah diantara kalian ada yang membutuhkan seorang wanita untuk bisa kunikahkan dengannya? Andaikan ayah kalian ini masih berminat kepada seorang wanita, tentu kalian tidak akan bisa mendahuluinya untuk mendapatkan anak gadis ini.”

 

 

 

 

Abdullah berkata, “Aku sudah mempunyai seorang istri.”
Abdurrahman berkata, “Aku pun begitu.”

Ashim berkata, “Sedangkan aku belum memiliki istri, maka nikahkanlah aku dengannya!”

 

 

 

Umar mengirim utusan kepada gadis itu, lalu menikahkannya dengan ‘Ashim. Dari wanita itu lahir seorang putri yang bernama Ummu Ashim binti Ashim bin ‘Umar bin ‘l-Khothob. Kemudian Ummu ‘Ashim dinikahi oleh ‘Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam dan darinya lahirlah ‘Umar bin Abdul Aziz.

 

 

Kisah ini memberikan kepada kita sebuah gambaran tentang sebuah ketakwaan yang lurus dan lapang. Baik saat terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, baik saat sendiri atau bersama dengan yang lain. Hal tersebut dikarenakan keyakinannya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersamanya, mendengar dan melihat setiap perbuatannya. Di antara pahala Allah yang langsung dirasakan wanita itu di dunia, Dia menganugerahi perkawinan yang penuh barakah, sehingga dari keturunannya lahir Al-Khulafa’ur-Rasyidin yang kelima, Umar bin Abdul Aziz.

 

 

Sumber: Syakhshiyyatul-Mar’ah Al-Muslimah Kama Yashughuhal-Islam Fil-Kitab Was-Sunnah

kisahislam.com

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: