Peringatan Penting Seputar Shalat

PERINGATAN DARI MENGAKHIRKAN SHALAT DAN HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN

 

Oleh : Ibnu Imam

——————————

Segala puji hanya milik Allah, kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya dan memohon ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan perbuatan-perbuatan kami, barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang dapat memberinya petunjuk.

Amma ba’du

Sesungguhnya shalat adalah tiang agama, pemelihara keyakinan, induk segala bentuk pendekatan diri kepada Allah, dan ketaatan yang paling utama. Ketahuilah wahai saudaraku muslim, sesungguhnya urusan shalat adalah urusan yang sangat besar, oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim berkata di dalam kitabnya “ash Shalah”, “Umat Islam tidak berselisih pendapat bahwasanya meninggalkan shalat dengan sengaja adalah termasuk dosa-dosa besar yang paling besar, dan bahwa dosanya lebih besar di sisi Allah dari pada dosa membunuh jiwa, mengambil harta, dosa zina, mencuri, dan minum khamar. Dan sesungguhnya dia akan berhadapan dengan siksaan Allah, kemurkaan-Nya dan kehinaan di dunia dan di akhirat.”

Oleh karena sebab di atas maka aku mencoba untuk menyusun dalam risalah ini sejumlah nash-nash dari al Qur’an berikut tafsirnya dan dari hadits-hadits Nabi saw, serta atsar (ucapan shahabat dan tabi’in, red) yang menyebutkan tentang shalat, hukum meninggalkannya dan haramnya untuk mengakhirkan dari waktunya, demikian juga tentang meninggalkan shalat berjama’ah. Dan aku pun berusaha untuk menyajikan dengan ringkas, agar menjadi sebuah peringatan bagi diriku dan anda semua wahai saudaraku, karena peringatan itu akan memberikan manfaat bagi orang yang beriman.

***

 

 

KEUTAMAAN SHALAT

Allah swt berfirman,

إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَبٰاً مَّوْقُوتاً

Artinya, “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

Dan Dia juga berfirman,

وَٱسْتَعِينُواْ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ وَإِنِّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى ٱلْخَٰشِعِيْنَ

Artinya, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu.” (QS. Al-Baqarah: 45)

Nabi saw bersabda dalam hadits Ubadah Ibnu ash-Shamit,

خَمْسُ صَلَوَاتٍ كَتَبَهُنَّ اللهُ عَلَى الْعِبَادِ, فَمَنْ جَاءَ بِهِنَّ وَلَمْ يُضَيِّعْ مِنْهُنَّ شَيْئًا اسْتِخْفَافًا بِحَقِّهِنَّ كَانَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ, وَمَنْ لَمْ يَأْتِ بِهِنَّ فَلَيْسَ لَهُ عِنْدَ اللهِ عَهْدٌ إِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ وَإِنْ شَاءَ اَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ.

Artinya, “Ada lima shalat yang Allah wajibkan kepada hamba-hamba, barang siapa yang mengerjakannya dan tidak menyia-nyiakannnya sedikitpun karena menganggap remeh akan haknya maka Allah memberikan janji akan memasukkannya ke dalam surga. Barang siapa yang tidak mengerjakannya maka Allah tidak memberikan janji kepadanya, jika berkehendak maka Allah akan mengadzabnya dan jika berkehendak, maka dia Dia akan memasukkannya ke dalam surga.”(Al-Iraqi berkata, “riwayat Abu Dawud dan an-Nasai dan dishahihkan oleh Ibnu Abdil Barr (2/70), al-Ihya.

Dan diriwayatkan dari Jabir ra Nabi saw bersabda,

مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرِ عَذْبٍ غَمْرٍ بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَقْتَحِمُ فِيْهِ كَلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ فَمَا تَرَوْنَ ذَلِكَ مِنْ دَرَنِهِ؟ قَالُوْا لاَ شَيْءَ. قَالَ: فَإِنَّ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ تُذْهِبُ الذُّنُوْبَ كَمَا يُذْهِبُ الْمَاءُ الدَرَنَ.

Artinya, “Perumpamaan shalat-shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai jernih yang mengalir di depan pintu rumah salah seorang di antara kalian, dia mandi di sana setiap hari sebanyak lima kali, maka apakah kalian melihat akan ada kotoran yang tersisa padanya? Para shahabat menjawab, “Tentu tidak ada.” Maka Rasulullah saw bersabda, “Maka sesungguhnya shalat lima waktu itu akan membersihkan dosa-dosa sebagaimana air yang membersihkan kotoran.” (HR. Muslim, 5/170)

Nabi saw juga bersabda dalam hadist riwayat dari Abu Hurairah ra,

إِنَّ الصَّلَوَاتِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ.

Artinya, “Sesungguhnya shalat itu merupakan pelebur dosa (yang dilakukan) di antara waktu waktu shalat itu, selagi dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

 

***

 

SANKSI BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

Ketahuilah wahai saudaraku yang mulia, bahwa hukuman bagi orang yang meninggalkan shalat pada hari Kiamat adalah sangat buruk dan keji. Allah swt telah memberitahukan tentang orang-orang yang menghuni neraka (Saqar), dalam firman-Nya,

مَا سَلَكَكُمْ فِى سَقَرَ • قَالُواْ لَمْ نَكُ مِنَ ٱلْمُصَلِّيْنَ

Artinya, ” Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka). Mereka menjawab:”Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al-Mudatstsir 42-43).

Nabi saw bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ أَوِالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

Artinya, “Pemisah antara seseorang dengan kesyirikan atau kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin Syafiq al-Uqaili ra dia berkata, “Dahulu para shahabat Muhammad saw tidak pernah memandang adanya suatu perbuatan yang meninggalkannya merupakan kekufuran selain dari pada shalat.”

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari Abu Darda’ ra dia berkata,

أَوْصَانِيْ خَلِيْليْ أَنْ لاَ تُشْرِكَ بِاللهِ شَيْئًا وَإِنْ قُطِعْتَ وَإِنْ حُرِقْتَ وَلاَتَتْرُكْ صَلاَةَ مَكْتُوْبَةٍ مُتَعَمِّدًا, فَمَنْ تَرَ كَهَا مُتَعَمِّدًا فَقَدْ بَرَئْتُ مِنْهُ الذِّمَّةَ وَلاَ تَشْرَبِ الْخَمْرَ فَإِنَّهَا مِفْتَاحُ كُلِّ شَرِّ.

Artinya, “Kekasihku (Rasulullah saw) telah berwasiat kepadaku, “(Yaitu) janganlah engkau menyekutukan Allah dengan sesuatu walaupun engkau dipenggal, walaupun engkau dibakar, dan janganlah engkau meninggalkan shalat maktubah (wajib) dengan sengaja. Barang siapa yang meninggalkannya dengan sengaja maka aku lepas tanggungan darinya. Dan janganlah engkau meminum khamar karena sesungguhnya ia adalah kunci segala keburukan.” (Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata, dalam sanadnya ada yang dhaif (lemah), Talkhisul Khabir (2/148).

Dan Allah swt berfirman tentang keadaan orang yang mengakhirkan shalat dari waktunya,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّين • ٱلَّذِيْنَ هُمْ عَن صَلاَتِهِمْ سَاهُوْنَ

Artinya, ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maaun: 4-5)

Atho’ Ibnu Yasar berkata, “Al Wail adalah sebuah lembah di neraka jahannam yang andaikan gunung dilemparkan disana maka akan leber karena saking panasnya. Sedangkan Ibnu Abbas ra berkata, “Wail adalah sebuah lembah di Jahannam, yang Jahannam meminta sebagian panas kepadanya, dan ia merupakan tempat tinggal orang-orang yang mengakhirkan shalat dari waktunya.

Al-Hasanul Bashri ditanya tentang firman Allah, ” Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Maaun: 4-5) Maka beliau menjawab, “Dia adalah orang yang lalai dari waktu shalat sehingga keluar dari waktunya. Berkata pula Wahab bin Munabbih, “Sungguh mengherankan keadaan orang-orang, mereka menangis terhadap orang yang mati jasadnya, tetapi mereka tidak pernah menangis terhadap orang yang mati hatinya,” yang dia maksudkan dengan mati hatinya adalah dengan meninggalkan shalat.

Dari Abu Buraidah ra, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,

اَلْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَر

Artinya, “Perjanjian antara kami dan antara mereka (orang munafik) adalah shalat, barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan at-Tirmidzi, dan berkata, “hasan shahih”)

Diriwayatkan dari syuraik dari Ashim dan Abi Wail dari Abdullah dia berkata, “Rasulullah saw bersabda,

أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ الصَّلاَةُ، وَ أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ فِي الدِّمَاءِ

Artinya, “Amalan pertama yang akan dihisab dari seorang hamba adalah shalat, dan perkara pertama kali yang akan diputuskan di antara manusia adalah urusan darah.” (HR. An-Nasai dan ath Thabrani, lihat al-Silsilah ash Shahihah no. 1748)

Wahai orang yang meninggalkan shalat, apakah kelak yang akan kau katakan kepada Tuhanmu jika Dia bertanya tentang shalat yang merupakan pertanyaan pertama kali untukmu? Maka apakah akan diterima amal-amalmu sebaik apa pun jika engkau menjawab, “aku tidak melakukannya.” Lihatlah wahai orang yang telah menyia-nyiakan hak Allah sabda Nabi saw dari Buraidah,

مَنْ تَرَكَ صَلاَةَ الْعَصْرَ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ” وَرِوَايَةُ مُسْلِمٍ كَأَنَّمَا وَتَرَ أَهْلُهُ وَمَالُهُ

Artinya, “Barang siapa yang meninggalkan shalat Ashar maka telah terputus seluruh amalannya.” Dalam riwayat Muslim disebutkan, “Seakan-akan keluarga dan hartanya lenyap.” (HR. Muslim 5/125)

Maka apakah yang masih tersisa untukmu wahai orang yang meninggalkan seluruh shalat? Apakah akan tersisa bagimu suatu amal shalih? Renungkanlah wahai orang yang menyia-nyiakan hak Allah dan meninggalkan shalat, di dalam sabda Nabi saw tentang orang yang menyia-nyiakan shalat Jum’at. Dari Abu Qatadah, bahwa Rasulullah saw bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْجُمْعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ مِنْ غَيْرِ ضَرُوْرَةٍ طُبِعَ عَلَى قَلْبِهِ

Artinya, ” Barang siapa yang meninggalkan Jum’at sebanyak tiga kali tanpa adanya kondisi darurat (udzur) maka hatinya akan distempel (diberi tanda). Yakni tanda noda hitam sehingga ia melihat kemungkaran sebagai kebaikan dan melihat kebaikan sebagai kemungkaran. Apakah masih ada kebaikan pada hati yang telah dicap dengan noda hitam?

Kemudian perhatikan pula wahai saudaraku, apa yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Ibnu Abbas ra di berkata, “Barang siapa yang meninggalkan Jum’at sebanyak tiga kali shalat Jum’at dengan sebab berpaling maka dia telah mencampakkan Islam di belakang punggungnya.” Dan diriwayatkan dari al-Miswar bin Makhramah dia berkata, “Aku menemui Umar Ibnul Khaththab sedangkan beliau sedang dalam keadaan tertidur pulas. Maka aku berkata, “Bagaimanakah pendapat kalian? Orang-orang menjawab, “Sebagaimana yang kamu lihat. Lalu aku berkata, “Bangunkan beliau dengan shalat, karena kalian tidaklah membangunkan beliau dengan sesuatu yang paling mengagetkannya daripada dengan shalat. Maka mereka berkata, “Shalat Wahai amirul mukminin.” Maka beliau berkata, “Ya Allah, tidak hak dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat. Maka beliau melakukan shalat padahal lukanya masih mengucurkan darah.

Perhatikan wahai saudaraku bagaimana semangat para sahabat yang mulia terhadap shalat sekalipun mereka sedang dalam keadaan sulit. Lihatlah Umar Ibnul Khaththab ra ketika beliau ditikam pada waktu shalat, lalu beliau dibawa pulang ke rumahnya, namun ketika datang waktu shalat beliau bersegera mendatanginya walaupun lukanya mengucurkan darah, karena beliau mengetahui bahwasanya tidak ada hak dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.

Maka bersemangatlah melakukan shalat wahai sekalian hamba Allah, janganlah anda semua menjadi orang-orang yang lalai terhadapnya. Ibnu Hajar didalam kitabnya “Talkhishul Khabiir” menukil penafsiran Ibnu Hibban terhadap hadits Nabi yang menjelaskan kafirnya orang yang meninggalkan shalat, beliau berkata, “Ibnu Hibban menafsirkan hadits-hadits tersebut dengan mengatakan, “Jika seseorang telah terbiasa meninggalkan shalat maka akan meningkat dengan meninggalkan kewajiban-kewajiban selainnya. Dan jika sudah biasa meninggalkan kewajiban-kewajiban maka itu akan membawanya kepada juhud (pengingkaran). Beliau menyebutkan sebutan tertinggi (puncak) yang ia merupakan akhir dari cabang kekufuran yang dimulai dengan meninggalkan shalat pada awalnya.

Adalah merupakan kebiasaan Rasulullah saw, beliau sering bertanya kepada para sahabatnya, “Apakah ada salah seorang di antara kalian yang bermimpi? Maka dia menceritakan kepada beliau apa yang dikehendaki oleh Allah untuk diceritakan. Dan beliau pada suatu pagi pernah bersabda, “Sesungguhnya telah datang kepadaku dua orang pada suatu malam (dalam mimpi), lalu keduanya berkata kepadaku, “Ayo berangkat.” Maka aku pergi bersama keduanya, dan kami mendatangi seseorang yang dalam keadaan tidur terlentang, dan tiba-tiba ada seseorang yang lain berdiri di dekatnya dengan membawa sebongkah batu besar, lalu dia melemparkan batu itu kekepalanya (orang yang terlentang) hingga remuklah kepala itu, lalu batu tersebut menggelinding kembali kepadanya dan ia mengambilnya. Maka tidaklah ia kembali mendatangi orang yang terlentang itu kecuali kepalanya telah utuh lagi sebagaimana sebelumnya, lalu dia mengulangi lagi dan melakukan sebagaimana yang telah dilakukan pada awal pertama kali. Aku lalu berkata kepada dua orang tersebut, “Subhanallah, apakah ini, maka keduanya menjawab, “Mari kita pergi”, hingga pada akhir hadits lalu keduanya berkata, “Sesungguhnya kami akan memberitahukan itu kepadamu. Adapun orang pertama yang engkau datangi itu dan kepala dihancurkan dengan batu maka dia adalah orang yang mengambil al-Quran lalu menentangnya dan ia tidur (tidak mau) mengerjakan shalat wajib.

Demikian keadaan kalian pada hari kiamat wahai orang yang tidak mau bersujud kepada Allah Rabb sekalian alam. Kepala kalian akan dilempar dengan batu besar hingga remuk, dan itu akan dilakukan berulang-ulang kepada setiap kepala yang tidak mau bersujud kepada Allah Rabbul ‘alamin. Lihatlah dan renungkanlah firman Allah Ta’ala,

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوْا ٱلصَّلَوٰةَ وَٱتَّبَعُواْ ٱلشَّهَوَٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيَّاً

Artinya, ” Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Ibnul Mas’ud berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat dalam ayat ini bukanlah meninggalkannya secara total tetapi mengakhirkan shalat dari waktunya. Lihatlah saudaraku semoga Allah memberikan rahmat kepadaku dan kepada anda semua, hanya dengan mengakhirkan shalat dari waktunya saja maka Allah mengancam pelakunya dengan ghay (kesesatan) tahukah anda apakah yang dimaksudkan dengan ghay disini (ghay yakni menyimpang dari jalan yang lurus atau tersesat, pen), dan apa pula pendapat anda semua dengan orang yang meninggalkan shalat secara total?

***

 

PENJELASAN TENTANG SANKSI BAGI ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT BERJAMA’AH

 

Telah kami jelaskan dalam pembahasan sebelumnya tentang hukum orang meninggalkan shalat secara keseluruhannya, dan kami paparkan juga hukumnya didunia, dan di akhirat ia termasuk orang orang yang merugi. Maka sekarang akan segera kami jelaskan tentang orang yang meninggalkan shalat berjama’ah, dan seorang mukmin wajib untuk bertakwa dan merasa takut kepada Allah swt (dari hal tersebut).

Rasulullah saw telah memperingatkan kita dengan keras dari meninggalkan shalat berjama’ah, maka bagaimakah dengan orang yang meninggalkan shalat secara total!!

Imam Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi telah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, dia berkata, “Rasulullah saw telah bersabda,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ فَتْيَتِيْ فَيَجْمَعُوْا لِي حُزَمًا مِنْ حَطَبٍ، ثُمَّ آتِيَ قَوْمًا يُصَلُّوْنَ فِيْ بُيُوتِهِمْ لَيْسَتْ بِهِمْ عِلَّةٌ فَأُحَرِّقُهَا عَلَيْهِمْ.

Artinya, ” Sungguh aku akan memerintahkan para pembantuku, agar mereka mengumpulkan untukku satu ikat kayu bakar, kemudian aku akan mendatangi suatu kaum yang melakukan shalat dirumah-rumah mereka padahal mereka tidak mempunyai udzur, maka aku akan membakar rumah-rumah mereka itu.” Lalu dikatakan kepada Yazid dan dia adalah anak seorang yang tuli, “Apakah Jum’at yang dimaksudkan atau selainnya, maka dia menjawab, “Semoga tuli kedua telingaku jika aku tidak mendengar Abu Hurairah meriwayatkannya sendiri dari Rasulullah saw dan beliau tidak menyebutkan Jum’at dan tidak pula selainnya.”

Perhatikanlah bagaimana Rasulullah saw menjadikan sanksi berupa dibakar rumahnya bagi orang yang disibukkan dari shalat berjama’ah. Dan Rasulullah saw tidak memberikan perhatian terhadap sesuatu, kecuali dalam hal yang tidak boleh untuk dikerjakan. Demikian besar sanksi ini, dan tidak akan merasa ngeri dengan sanksi tersebut kecuali orang-orang yang bertakwa dan berhati bersih, maka jadilah anda semua wahai saudaraku termasuk golongan mereka.

Diriwayatkan dari Amr Ibnu Umi Maktum dia berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah aku adalah orang yang kesulitan dan rumahku jauh (dari masjid). Sementara penunjuk jalanku tidak bisa selalu menyertaiku, maka apakah ada keringanan bagiku untuk melakukan shalat di dalam rumah? Beliau menjawab, “Apakah engkau mendengarkan panggilan (adzan)? Dia menjawab, “ya” Maka Nabi bersabda, “Aku tidak mendapatkan adanya rukhsah (keringanan) bagimu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Muslim dari Abu Hurairah (5/155) dengan tanpa membatasi nama seorang sahabat)

Perhatikan wahai saudaraku, bagaimana dia seorang yang buta, namun Nabi tidak memberikan keleluasaan kepadanya, padahal beliau mendapat julukan dari Allah sebagai raufur rahim (lembut dan penuh kasih sayang). Tetapi meski demikian dia tidak mendapati adanya rukhsah untuk meninggalkan shalat berjama’ah padahal mungkin saja orang buta tersebut akan mendapati gangguan dan kesulitan dijalanan. Namun ternyata selagi mendengarkan panggilan adzan maka tidak ada rukhsah baginya.

Pada saat ini kita hidup dimasa begitu banyak pengeras suara dan banyak arloji penunjuk waktu, maka semakin bertambah hujjah atas kita semua. Tidak seorang pun di saat ini kecuali dia akan mendengar adzan, maka apa hujjah yang akan kita kemukakan kelak nanti dihadapan Allah swt. Ini adalah peringatan keras bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah, maka bagaimana pendapat anda dengan orang yang meninggalkan jama’ah dan meninggalkan shalat sekaligus?. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, bahwa dia pernah ditanya tentang seseorang yang berpuasa di siang hari, shalat di malam hari, tetapi tidak mendatangi shalat berjama’ah tidak pula shalat Jum’at, maka beliau menjawab, “Orang yang demikian masuk Neraka.” (HR. At-Tirmidzi secara maufuk)

Ibrahim at-Taimiy berkata tentang firman Allah Ta’ala,

يَوْمَ يُكْشَفُ عَن سَاقٍ وَيُدْعَوْنَ إِلَى ٱلسُّجُوْدِ فَلاَ يَسْتَطِيعُونَ • خَٰشِعَةً أَبْصَٰرُهُمْ تَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ وَقَدْ كَانُواْ يُدْعَوْنَ إِلَى ٱلسُّجُوْدِ وَهُمْ سَٰلِمُونَ

Artinya, ” Pada hari betis disingkapkan dan mereka dipanggil untuk bersujud; maka mereka tidak kuasa, (dalam keadaan) pandangan mereka tunduk ke bawah, lagi mereka diliputi kehinaan. Dan sesungguhnya mereka dahulu (di dunia) diseru untuk bersujud, dan mereka dalam keadaan sejahtera.” (QS. Al-Qalam: 42-43).

Beliau berkata. “Sesungguhnya hari tersebut adalah hari Kiamat, mereka semua diliputi dengan kehinaan dan penyesalan mendalam karena mereka dulunya di dunia diseru untuk sujud sedangkan mereka dalam keadaan sehat bugar tetapi tidak mau memenuhi seruan itu. Beliau juga berkata, “Mereka semua diseru untuk melakukan shalat maktubah (wajib) dengan adzan dan iqamah.

Berkata juga Ibnul Musayyib (Said), “Mereka semua dahulu mendengarkan panggilan “hayya ‘alal falah” tetapi tidak mau memenuhinya padahal mereka semua dalam keadaan sehat dan sejahtera. Berkata pula Ka’ab al-Akhbar, “Demi Allah tidaklah ayat ini turun kecuali kepada orang-orang yang ketinggalan dari meninggalkan shalat berjama’ah, maka ancaman mana lagi yang lebih berat daripada ayat ini bagi orang yang meninggalkan shalat berjama’ah dengan tanpa ada udzur.”

***

 

 

KONDISI SALAFUS SHALIH DALAM SHALAT BERJAMA’AH

Hatim al-Asham berkata, “Pernah suatu kali aku ketinggalan shalat berjama’ah, maka Abu Ishaq an-Najari menghiburku (berta’ziyah) sendirian. Andaikan salah satu anakku meninggal, maka lebih dari sepuluh ribu orang akan berta’ziyah kepadaku, (yang demikian) karena musibah agama di mata manusia lebih ringan daripada musibah dunia.

Dikisahkan juga bahwa Umar ra keluar menuju kebun miliknya, lalu dia pulang dan mendapati orang-orang telah selesai melakukan shalat Ashar. Maka dia lalu berkata “inna lillahi wa inna ilaihi raaji’un”, aku telah ketinggalan shalat Ashar dengan berjama’ah, maka aku meminta kalian sebagai saksi bahwa kebunku tersebut aku sedekahkan kepada orang-orang miskin. “Maksudnya adalah agar ia menjadi kafarah (penebus) atas perbuatannya, maka beliau bersedekah dengan kebun itu karena ia telah melalaikannya dari mengerjakan shalat berjama’ah (“hanya”) sebanyak satu kali.

Ibnu Umar ra berkata, “Kami (para sahabat) jika mendapati seseorang tidak melakukan shalat Isya’ dan Shubuh dengan berjama’ah maka kami berpraduga kepadanya bahwa dia telah munafiq.” Yakni karena adanya hadits Nabi saw, Sesungguhnya keduanya (Shalat Isya dan Shubuh) adalah shalat yang paling berat bagi orang-orang munfik, andaikan mereka mengetahui apa yang ada pada keduanya maka tentu mereka akan mendatanginya walaupun dengan cara merangkak.” Berkata pula Said bin al Musayyib, “Tidaklah muadzin mengumandangkan adzan semenjak dua puluh tahun kecuali aku sudah berada di masjid.”

***

 

 

PERHATIAN SALAFUS SHALIH TERHADAP KEKHUSYU’AN

 

Pernah dikatakan kepada Khalaf bin Ayyub, “Apakah seekor lalat tidak mengganggumu di dalam shalatmu lalu engkau mengusirnya? Maka dia menjawab, “Aku tidak membiasakan diriku melakukan sesuatu yang dapat merusak shalatku.” Lalu dikatakan kepadanya, “Bagaimanakah engkau dapat bersabar atas hal itu? Dia berkata, “Telah sampai kabar kepadaku bahwa ada seorang yang fasiq mampu bersabar terhadap cambuk seorang raja agar dikatakan fulan orang yang sangat sabar, lalu dia merasa bangga dengan hal itu, sedangkan aku berdiri dihadapan Rabbku, apakah pantas aku bergerak-gerak untuk mengusir seekor lalat (dihadapan-Nya?”

Diriwayatkan dari Muslim bin Yasar bahwasanya dia pada suatu hari melakukan shalat di masjid jami’ Bashrah, lalu salah satu sudut masjid ada yang roboh sehingga orang-orang berkerumun karena kejadian itu, namun dia tidak menyadari kejadian tersebut sehingga selesai dari shalat.

Ali bin Abi Thalib ra apabila datang waktu shalat maka tubuhnya bergetar dan mukanya berubah warna ronanya. Maka ditanyakan kepada beliau, “Ada apakah dengan anda wahai Amirul Mukminin? Maka beliau menjawab, “Telah datang waktu amanah yang pernah Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung, namun mereka semua enggan untuk memikulnya dan mereka merasa sangat takut terhadapnya, lalu aku memikul amanat itu.”

Diriwayatkan pula dari Ali bin Al-Husain bahwa beliau apabila berwudhu maka menguninglah warna kulitnya, lalu keluarganya bertanya, “Apakah yang membuat wajahmu memucat tatkala engkau sedang wudhu? Beliau menjawab, “Tahukah kalian di hadapan siapakah aku akan berdiri?.

***

 

 

HUKUM ORANG YANG MENINGGALKAN SHALAT

 

Ibnu Hajar al-Haitsami berkata dalam kitabnya “al Zawajir”, “Para ulama dari kalangan shahabat dan ulama setelah mereka berbeda pendapat tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Telah disebutkan di dalam hadits-hadits yang begitu banyak dalam pembahasan sebelumnya tentang jelasnya kekafiran, kemusyrikan serta keluarnya orang tersebut dari millah (agama). Dan sesungguhnya telah lepas darinya dzimmah (jaminan) dari Allah dan jaminan Rasul-Nya, dan dia juga terputus amalannya, dikatakan tidak ada agama baginya, tidak ada iman baginya dan ancaman keras yang semisal itu.

Sekelompok shahabat, tabi’in dan ulama sepeninggal mereka berpendapat melalui zhahirnya hadits (secara tekstual), mereka di antaranya Umar Ibnul Khaththab, Abdur Rahman bin Auf, Muadz bin Jabal, Abu Hurairah, Ibnul Mas’ud, Ibnu Abbas, Jabir bin Abdillah, Abu Darda’, dan selain mereka dari para shahabat radliyallahu ‘anhum ajmain, serta Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, Abdullah Ibnul Mubarak, Ibrahim an-Nakha’i, al Hakam bin Utaibah, Ayyub as-Sakhtiyani, Abu Dawud ath Thayyalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb dan selain mereka, pendapat mereka adalah, “Barang siapa yang meninggalkan shalat secara sengaja hingga keluar dari waktunya maka dia telah kafir dan boleh dialirkan darahnya.”

Imam Ibnul Qayyim menukil di dalam kitabnya “ash Shalah” secara lebih rinci dari pendapat-pendapat tersebut. Setelah beliau menukil pendapat yang mengkafirkan beserta dalil-dalilnya dan juga pendapat yang tidak mengkafirkan beserta dalil-dalilnya maka beliau berkata, “Orang yang meninggalkan shalat adalah kafir berdasarkan nash dari Rasulullah saw, tetapi ia kafir amal (perbuatan) bukan kafir i’tiqad (keyakinan). Dan kekufuran ini tidak mengeluarkan seseorang dari Islam dan millah secara total, sebagaimana juga para pelaku zina, pencuri, peminum khamar juga tidak keluar dari millah, walaupun sebutan iman telah lepas darinya. Beliau lalu berkata, “Karena hakikat iman itu terdiri dari ucapan dan perbuatan, ucapan ada dua macam yaitu ucapan hati yaitu keyakinan dan ucapan lisan yaitu berupa pernyataan dengan kalimat Islam.

Dan amal juga terbagi menjadi dua bagian, yaitu amalan hati seperti niat dan keikhlasannya, serta amalan anggota badan. Maka jika empat hal ini lenyap lenyap pula iman secara keseluruhan, dan jika lenyap tashdiq (pembenaran) dalam hati maka seluruh bagian yang tersisa tidak ada manfaatnya sama sekali.

Dan kufur pun ada dua macam, yaitu kufur amal (perbuatan) dan kufur juhud (ingkar). Kufur juhud adalah mengingkari apa yang dia tahu bahwa Rasulullah saw datang membawa perintah shalat itu dari Allah swt dikarenakan memang menentang dan ingkar (menolak). Maka aku katakan, “Berdasarkan ini orang yang meninggalkan shalat karena malas maka dia telah kufur berupa kufur amali (perbuatan) dan orang yang meninggalkannya karena menentang maka dia kafir keluar dari Islam (millah).

Maka wahai orang yang meremehkan hak Allah berhati-hatilah dari siksa Tuhanmu, karena sesungguhnya ia amat pedih, dan waspadalah jangan sampai anda menjadi orang yang meninggalkan shalat, sehingga akan tersemat pada diri anda predikat kafir, meskipun itu kafir amali. Perkaranya adalah tidak akan selamat seseorang dalam hal yang telah Nabi saw sebut sebagai kafir (padahal beliau tidak berbicara menurut hawa nafsu), dan juga Allah pun telah mengancam dengan ghay dan neraka Saqar kami berlindung kepada Allah dari murka-Nya.

Telah selesai buku ini, dan segala puji hanya bagi Allah, bagi-Nya seluruh kemuliaan, Yang Maha Tinggi lagi Maha Pemurah, semoga shalawat tercurah kepada Nabi saw selagi rembulan masih bersinar dan selagi pepohonan masih terus berdaun. Segala puji hanya milik Allah yang dengan nikmatnya seluruh amal shalih menjadi sempurna.

***

 


Dinukil dari sebuah buku kecil:

Peringatan Penting Seputar Shalat

 

Judul Asli:

Tahdzirul Muslimin Min Ta’hirissholat Wa Hukmu Tarikuha

 

Penulis:

Majmu’atul ‘Ulama

 

Penterjemah:

Kholif Muttaqin Djawari

 

Penerbit:

Yayasan Al-Sofwah


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: